Materi Perkuliahan

(1) DASAR-DASAR ILMU SOSIAL & ANTROPOLOGI

Sumber: Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali Press, 1990)

Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah sistem pengetahuan manusia yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, merupakan bagian dari pengetahuan manusia. Kedua, pengetahuan itu bersifat rasional dengan mendasarkan pada penggunaan logika (Ilmiah). Ketiga, pengetahuan itu bersifat sistematis. Keempat, pengetahuan itu daoat dibuktikan kebenarannya oleh orang lain.

Secara umum, ilmu pengetahuan dapat diklasifikasikan menjadi empat macam (Soerjono Soekanto, 1990, hal 1). Pertama, Ilmu Matematika. Kedua, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mempelajari gejala-gejala alam yang bersifat hayati (biologi) maupun gejala-gejala alam non hayati (fisika, kimia). Ketiga, Ilmu Perilaku (behavoiral science). Keempat, Ilmu Pengetahuan Kerohanian (agama, teologi).

Ilmu perilaku mencakup dua kajian. Pertama, ilmu perilaku hewan (animal behavior). Kedua, ilmu perilaku manusia (human behavior). Ilmu perilaku manusia ini disebut juga Ilmu Pengetahuan Sosial karena mengkaji perilaku-perilaku manusia pada ummnya. Dari sini berkembang berbagai cabangnya. Ilmu yang mempelajari perilaku kejiawaan manusia disebut psikologi. Yang mempelajari perilaku kekuasan manusia disebut ilmu politik. Yang mempelajari perilaku manusia yang mengembangkan mata pencaharian disebut ilmu ekonomi. Yang mempelajari perilaku manusia dan kebudyaaannya disebut antropologi.

Sosiologi merupakan sebuah ilmu pengatahuan karena memenuhi syarat-syarat ilmu pengetahuan seperti di atas (pengetahuan, rasio, logika, sistematis, teruji kebenarannya secara ilmiah). Disamping ciri-ciri itu, ciri-ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan ilmiah menurut Harry M Johnson adalah sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 15). Pertama, bersifat empiris, yaitu berdasar pada observasi terhadap kenyataan, bukan spekulatif. Kedua, teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil obsrvasi. Ketiga, kumulatif, artinya teori-teori sosiologi dibentuk di atas teori-teori yang sudah ada (memperbaiki, mengembangkan teori-teori yang sudah ada). Keempat, non-etis, artinya tidak mempersoalkan masalah baik buruk (moral) tetapi hanya bertujuan untuk menjelaskan fakta secara analitis.

Mengenai definisi sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, beberapa ahli memberikan penekanan yang berbeda-beda sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 20-21). Pertama, menurut Patirim A. Sorokin, sosiologi adalah ilmu yang (1) mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya antara gejala ekonomi dan agama, antara keluarga dan motal, (2) mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala non sosial seperti gejala biologis, geografis, alam, dan sebagainya, (3) mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial. Kedua, menurut Roucek dan Waren, sosiologi mempelajari hubungan antar manusia yang ada di dalam kelompok-kelompok. Ketiga, menurut J.A.A. van Doorn dan C.J. Lammers, sosiologi mempelajari tentang struktur sosial dan proses-proses sosial. Kelima, menurut Selo Soemardjan, sosiologi mempelajari struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial.

Karena sosiologi merupakan ilmu yang luas cakupannya, dan definisi pastinya juga tidak bisa ditentukan secara sempit, maka bahan ajar ini mengacu pada pemahaman yang diberikan oleh sosilog Soerjono Soekanto dalam buku ”Sosiologi Suatu Pengantar”. Pada dasarnya, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari dimensi-dimensi sosial masyarakat, yaitu: (1)   proses-proses Sosial, (2) Kelompok Sosial, (3) Lembaga Kemasyarakatan, (4) Stratifikasi Sosial, (5) Masyarakat dan Kebudayaan, (6) Perubahan Sosial, (7) Kekuasaan dan Wewenang.

Adapun masyarakat didefinisikan dengan serangkaian penjelasan sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 26-27). Pertama, sekelompok manusia yang hidup bersama. Kedua, mereka bercampur untuk waktu yang cukup lama. Ketiga, mereka sadar jika mereka merupakan satu kesatuan. Keempat, mereka menjadi sebuah sistem yang hidup bersama.

Mengacu pada definisi di atas, masyarakat mempunyai komponen-komponen sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 28-29). Pertama, populasi, yaitu manusia-manusia yang menjadi anggota masyarakat itu. Kedua, kebudayaan, yaitu hasil karya, rasa, dan cipta manusia. Ketiga, hasil-hasil kebudayaan material. Keempat, organisasi sosial, yaitu jaringan hubungan antar warga-warga masyarakat yang mencakup unsur-unsur seperti (1) status dan peran (2) kelompok-kelompok sosial, (3) stratifikasi sosial.

Sejarah Perkembangan Sosiologi

Sosiologi adalah ilmu sosial yang relatif masih muda karena baru berkembang setelah tokoh bernama Auguste Comte (1798-1853) mengembangkan pemikiran-pemikirannya (Soerjono Soekanto, 1990, hal 31). Dengan demikian perkembangan sosiologi dapat diklasifikasikan sebagai sosiologi sebelum Auguste, sosiologi Auguste Comte, dan sosiologi sesudah Auguste Comte.

Pada era sebelum Auguste Comte, sosiologi belum terbentuk sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Pada periode itu baru berkembang pemikiran-pemikiran filosofis tentang kehidupan sosial (masyarakat). Para filsuf yang banyak memberi kajian masalah-masalah sosial adalah sebagai berikut:

Plato (429-37 SM) Menurutnya, masyarakat adalah refleksi dari kehidupan manusia secara perorangan yang memiliki tiga unsur (nafsu, semangat, intelegensia). Masyarakat pada dasarnuya merupakan kesatuan yang menyeluruh (sistem).

Aristoteles (384-32 SM)Masyarakat yang merupakan sebuah sistem dapat dianalogikan dengan organisme biologis manusia. Basis masyarakat adalah moral.

Ibn Khaldun (1332-1406).Masyarakat merupakan kesatuan sosial yang terikat oleh perasaan solidaritas. Faktor solidaritas menyebabkan adanya ikatan dan usaha-usaha atau kegiatan-kegiatan bersama antara manusia.

Pemikiran zaman Renaisans (1200-1600).Thomas More mengemukakan ide tentang bentuk masyarakat yang ideal. N. Machiavelli menekankan masalah kekuasaan dalam masyarakat dan bagaimana mempertahankan kekuasaan itu.

Thomas Hobbes (1588-1679). Menurutnya, manusia secara alamiah  mempunyai keinginan-keinginan mekanis yang membuat mereka bisa saling berkonflik. Tetapi, manusia juga mempunyai pikiran untuk hidup damai sehingga menciptakan masyarakat berdasarkan perjanjian atau kontrak antara para warganya (kontrak sosial).

Pemikiran abad ke-18. John Locke (1632-1704) dan J.J. Rousseau (1712-1778) mengembangkan konsep “kontrak sosial” dari Thomas Hobbes. Kontrak antara warga masyarakat degan fihak yang mempunyai wewenang sifatnya atas dasar faktor pamrih.

Saint Simon (1760-1825). Menurutnya, manusia harus dipelajari dalam konteks kehidupan berkelompok. Sejarah manusia adalah seperti sebuah ”fisika sosial”.

Auguste Comte (1798-1853) adalah ilmuan yang pertama-tama menggunakan istilah ”sisiologi” dan yang pertama-tama memberikan definisi ilmu tersebut sehingga membedakan ruang lingkupnya dengan ilmu-ilmu lainnya (Soerjono Soekanto, 1990, hal 34). Comte bertolak dari pemikirannya bahwa perkembangan intelektual manusia melewati tiga tahap. Pertama, tahap teologis atau fiktif, yaitu manusia menafsirkan dunia ini sebagai dunia gaib yang dikendalikan roh dewa-dewa semata. Kedua, tahap metafisika, yaitu pandangan bahwa setiap gejala yang ada pada akhirnya akan bisa diungkapkan atau dipahami. Pengungkapkan itu akan membuat manusia bisa menemukan hukum-hukum alam.Ketiga, tahap ilmu pengetahuan positif.

Menurut Comte, sosiologi adalah ilmu pengetahuan positif yang mengungkapkan kebenaran-kebenaran kehidupan manusia secara ilmiah. Hirarki atau tingkatan ilmu-ilmu pengetahuan menurut tingkat pengurangan generalitas dan penambahan kompleksitasnya adalah, (1) matematika, (2) astronomi, (3) fisika, (4) ilmu kimia, (5) biologi, (6) sosiologi. Bagi Comte, sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang paling kompleks.

Auguste Comte membeadakan sosiologi menjadi dua. Pertama, sosiologi statis, yaitu sosiologi yang mempelajari hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Ini semacam studi tentang ”anatomi sosial” yang mempelajari aksi-aksi dan reaksi-reaksi yang terjadi dalam sistem sosial. Kedua, sosiologi dinamis, mempelajari perkembangan atau pembangunan kehidupan masyarakat.

Perkembangan sosiologi setelah Auguste Comte banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu lainnya sehingga menunculkan berbagai aliran atau mazhab yang bersifat khusus (Soerjono Soekanto, 1990, hal 37-47).

Mazhab Geografi dan Lingkungan. Mazhab ini melihat hubungan sangat erat antara kehidupan masyarakat dengan keadaan tanah dan lingkungan alam. Sebagai contoh adalah pemikiran sosiologi Edward Buckle dari Inggris (1821-1862) yang  menyimpulkan bahwa perilaku bunuh diri adalah akibat dari rendahnya penghasilan karena kondisi alam yang buruk.

Mazhab Organis dan Evolusioner Sosiologi pada mazhab ini banyak dipengaruhi oleh teori-teori ilmu biologi. (1) Herbert Spencer (1820-1903) misalnya, melihat masyarakat seperti sebuah organisme biologis. Menurut Spencer, sama seperti evolusi mahluk hidup, masyarakat akan berkembang dari bentuk organisme yang sederhana menuju bentuk organisme yang kompleks. Masyarakat yang kompleks mempunyai sistem pembagian kerja yang kompleks yang bersifat heterogen. (2)  Pemikiran Spencer mempengaruhi W.G. Summer (1840-1910). Menurut Summer, kompleksitas masyarakat terlihat dari sistem norma yang mengatur kehidupan mereka. Semakin kompleks sebuah masyarakat, semakin rumit pula sistem aturan kehidupan sosial yang berkembang. (3) Menurut Soerjono Soekanto, Emile Durkheim (1855-1917) bisa digolongkan sebagai sosiolog mazhab organis ini karena dia membahas kehidupan masyarakat yang juga dianggapnya seperti sebuah organisme. Menurut Durkheim, unsur baku dalam masyarakat adalah solidaritas. Pertama, solidaritas mekanis, yaitu solidaritas yang mengikat masyarakat sederhana yang belum mempunyai diferensiasi dan pembagian kerja yang kompleks. Pada masyarakat sederhana, kepentingan dan kesadaran antar warganya relatif sama. Kedua, solidaritas organis, yaitu solidaritas yang mengikat masyarakat kompleks yang memiliki diferensiasi dan pembagian kerja yang rumit seperti halnya masyaraka industri. (4) Tokoh lain dari mazhab ini adalah Ferdinand Tonnies dari Jerman (1855-1936), membedakan antara masyarakat ”paguyuban” dan masyarakat ”patembayan”. Paguyuban (gemeinchaft) adalah kehidupan masyarakat yang sederhana yang bersifat karib, akrab, menekankan hubungan perasaan, simpati pribadi, dan kepentingan bersama. Patembayan (gesselschaft) adalah kehidupan masyarakat kompleks yang menekankan kepentingan-keentingan dan ikatan-ikatan rasional

Mazhab Formal. Mazhab ini dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dan filsafat Immanuel Kant. (1) Georg Simmel (1858-1918) mengatakan bahwa elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur hubungan antar elemen-elemen itu. Sosiologi bertugas mengidentifikasi proses terjadinya kesatuan tersebut. (2) Leopold von Wiese (1876-1961) mengatakan bahwa sosiologi harus memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan antar manusia tanpa mengaitkan dengan tujuan-tujuan maupun kaidah-kaidah. Sosiologi harus mulai dengan pengamaan terhadap perilaku-perilaku konkrit. (3) Alfred Vierkandt (1867-1953) mengatakan bahwa sosiologi justru harus menyoroti situasi-situasi mental yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara insivisu-individu dan kelompok-kelompok dalam sebuah masyarakat.

Mazhab Psikologi. Pada mazhab ini, sosiologi banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dan teori-teori psikologi. (1) Gabriel Tarde (1843-1904) dari Perancis mengembangkan sosiologi dari pemikiran bahwa gejala-gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi jiwa-jiwa individu. Dengan demikian gejala-gejala sosial harus dijelaskan dalam kerangka reaksi-reaksi psikis seseorang. (2) Albion Small (1854-1926) dan beberapa sosiolog Amerika Serikta menekankan bahwa sosiologi harus mempelajari reaksi-reaksi  individu terhadap individu maupun kelompok terhadap kelompok. (3) Richard Horton Cooley (1864-1924) menekakan bahwa individu dan masyarakat itu saling melengkapi. Dalam kelompok primer (primary group), hubungan antar pribadi dari para warganya sangat erat. Inilah kehidupan sosial yang paling mendasar. (4) L.T. Hobhouse (1864-1929) mengatakan bahwa psikologi dan etika harus menjadi kriteria untuk mengukur perubahan sosial.

Mazhab Ekonomi. Mazhab ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran di bidang ekonomi. (1) Karl Marx (1818-1883) mengembangkan pemikiran tentang perubahan masyarakat yang disebabkan karena faktor ekonomi. Ketika masyarakat masih terdapat stratifikasi sosial maka akan terdapat kelas-kelas sosial yang saling bertikai. Kelas sosial yang berkuasa akan menindas kelas sosial yang rendah seperti halnya masyarakat buruh dan kaum miskin (golongan proletar). Kondisi ini akan mendorong kelas bahwa itu melakukan pemberontakan dan memenangkan kekuasaan sehingga akhirnya tumbuh suatu jenis masyarakat baru yang tanpa kelas. (2) Max Weber (1864-1920) menjelaskan bagaimana perilaku individu-individu dalam masyarakat. Weber membedakan perilaku individu sebagai berikut: (1) aksi yang bertujuan, yaitu aksi-aksi individu yang dilakukan untuk mencapai hasil-hasil tertentu secara efisien, (2) aksi yang berisikan nilai yang telah ditentukan, yaitu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu, (3) aksi tradisional, yaitu perilaku untuk melakukan aturan yang bersanksi, (4) aksi emosional, yaitu perilaku yang menyangkut perasaan seseorang. Jenis-jenis aksi itumenimbulkan hubungan-hubungan sosial yang beragam di dalam masyarakat.

Mazhab Hukum. Mazhab sosiologi ini dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran di bidang hukum. (1) Emile Durkheim.Sosiologi mempelajari hubungan antara hukum dan jenis-jenis solidaritas dalam masyarakat. Pada amasyarakat sederhana yang berolidaritas mekanis, terdapat kaidah-kaidah hukum yang bersifat represif. Pada masyarakat kompleks bersilidaritas organis, terdapar kaidah-kaidah hukum yang bersifat restitutif. Hukum represif menekankan pemberian sanksi pidana yang berat, yang sering merampas kehormatan dan masa depan serta memberikan penderitaan pada terpidana. Sedangkan hukum restitutif memberikan sanksi sedemikian rupa untuk mengembalikan pada keadaan semula sebelum terjadi keguncangan akibat pelanggaran kaidah hukum itu. Karena itu dalam masyarakat modern, disamping terdapat hukum pidana terdapat pula hukum perdata, hukum dagang, hukum acara, hukum administrasi, dan hukum tata negara. (2) Max Weber. Menurutnya ada 4 jenis hukum: (1) hukum irasional dan materiil yang dasar keputusannya bersifat emosional tanpa kaidah, (2) hukum irasional dan formal di mana ada undang-undang dan hakim namun dasarnya adalah kaidah-kaidah di luar akal yang dianggap sebagai wahyu, (3) hukum rasional dan materiil, keputusan para pembentuk undang-undang dan hakik menunjup pada suatu kitab suci, kebijaksanaan-kebijaksanaan penguasa atau ideologi, (4) hukum rasional dan formal, hukum yang dibentuk berdasar konsep-konsep abstrak dari ilmu hukum. Menurut Weber, hukum rasional dan formal merupakan dasar dari negara modern

Menurut Soerjono Soekanto, beberapa tokoh Indonesia asli sudah memikirkan masalah-masalah sosiologi (Soerjono Soekanto, 1990, hal 56). Ajaran Wulang Reh dari Sri Paduka Mangkunegoro IV misalnya, membahas hubungan sosial antar golongan sosial. Ki Hadjar Dewantoro juga mengkaji masalah sosiologis berkenaan dengan kepemimpinan dan kekeluargaan.

Sebelum Indonesia merdeka, sudah ada percikan-percikan pemikiran sosiologis. Snouck Hurgronje, C. Van Vollenhoben, Ter Haar, Duyvendak, dan lain-lain telah menghasilkan karya-karya tulis sosiologis. Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta juga mengajarkan sosiologi pada mahasiswa-mahasiswanya.

Setelah Indonesia merdeka, sosiologi berkembang pesat di Indonesia, meski awalnya hanya dianggap sebagai ilmu bantu (Soerjono Soekanto, 1990, hal 58-60).

  • Pada 1948, Soenario Kolopaking mulai mengajar sosiologi di Akademi Ilmu Politik Yogyakarta (kemudian menjadi Fakultas Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada).
  • Sejak 1950, beberapa mahasiswa Indonesia belajar sosiologi di luar negeri.
  • Djody Gondokusumo menulis buku sosiologi pertama berjudul ”Sosiologi Indonesia”.
  • Hasan Shadily, lulusan Cornell University, menulis buku ”Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia”.
  • Selo Soemardjan, lulusan Cornell University menerbitkan disertasinya berjudul “Social Changes in Yogyakarta” (1962)
  • Selo Soemardjan bersama Soelaeman Soemardi menulis buku ”Setangkai Bunga Sosiologi” (1964)
  • Mayor Polak, seorang warga Indonesia bekas anggota Pangreh Praja Belanda yang telah belajar sosiologi di Leiden (Belanda) menulis buku ”Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum, dan Politik” (1967)
  • Beberapa Universitas Negeri mengajarkan sosiologi (Universitas Gadjah Mada, Univerisitas Indonesia, Universitas Padjajaran, dan lain-lain)
  • Sejalan dengan perkembangan dan pergolakan masyarakat Indonesia, analisis-analisis, riset-riset dan buku-buku sosiologi semakin merebak. Demikian juga para sosiolog bermunculan di Indonesia.

Kegunaan atau Manfaat Sosiologi

Sosiologi memberikan manfaat secara praktis melalui penelitian ilmiah (kegiayan ilmiah yang didasarkan pada proses analisis dan konstruksi) (Soerjono Soekanto, 1990, hal 457). Tujuan penelitian adalah mengungkapkan kebenaran dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, misalnya, kita bisa mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial atau penyimpangan sosial. Selanjutnya informasi itu menjadi masukan untuk mengambil keputusan atau kebijakan untuk pembangunan masyarakat.

Manfaat penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, penelitian murni bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara teoritis. Kedua, penelitian yang berpusat pada masalah bermanfaat untuk memecahkan masalah yang timbul dalam perkembangan teori. Ketiga, penelitian terapan bermanfaat untuk memecahkan masalah yang dihadapi (oleh masyarakat atau pemerintah).

Melalui penelitian sosiologis kita dapat memahami kebenaran masalah-masalah sosial seperti masalah-masalah proses sosial, kelompok sosial, stratifikasi sosial, lembaga kemasyarakatan, kekuasan dan wewenang, dan perubahan sosial. Hasil-hasil penelitian sosiologis dapat dimanfatkan oleh ilmu-ilmu sosial lainnya. Hal ini disebabkan karena penelitian sosiologis memusatkan perhatiannya pada masyarakat, yang merupakan wadah kehidupan bersama yang mencakup aspek-aspek: (1) fisik, (2) biologis, (3) politis, (4) ekonomis, (5) sosial, (6) budaya, (7) kesehatan, (8) pertahanan-keamanan, (9) hukum.

Sebagai contoh adalah manfaat penelitian sosiologis dalam proses pembangunan. Dalam merencanakan pembangunan, selalu dibutuhkan data-data akurat tentang perkembangan masyarakat, misalnya mengenai perkembangan proses sosial, kelompok-kelompok sosial, kebudayaam, lembaga-lembaga kemasyarakatan, dan lain-lain. Melalui penelitian sosiologis, data-data itu diperoleh dan menjadi masukan-masukan yang penting.

(2) KONSEP DASAR SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT

Sumber: Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali Press, 1990)

Proses-proses Sosial

Proses sosial pada dasarnya adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika para individu dan kelompok-kelompok di dalam masyarakat saling bertemu dan menentukan pola hubungan di antara mereka. Dengan demikian proses sosial mencakup masalah yang luas.

Untuk membatasi masalah proses sosial itu, sosiolog Soerjono Soekanto membatasi proses sosial sebagai masalah interaksi sosial. Pada dasarnya, interaksi sosial adalah hubungan antar individu atau kelompok dalam masyarakat yang prosesnya mencakup dua hal: (1) kontak, (2) komunikasi (Soerjono Soekanto, 1990, hal 115). Kontak itu dapat bersifat primer (bertemu muka dengan muka) dan sekunder (lewat alat seperti telepon, media, dan sebagainya). Komunikasi adalah proses menyampaikan pesan (message) kepada orang lain. Pemberi pesan disebut komunikator dan penerima pesan disebut komunikan.

Sosiolog George Simmel menekankan masyarakat sebagai sistem interaksi (Johnson, 1986, hal 251). Masyarakat merupakan kumpulan dari manusia-manusia yang saling berhubungan satu sama lain. Interaksi sosial itu selalu bersifat timbal balik.

Menurut Soerjono Soekanto, berdasar pada pandanga Gillin dan Gillin serta Kimball Young, masalah interaksi sosial dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam bentuk proses-proses sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 79, 97). Pertama, proses yang bersifat asosiatif yang mencakup proses-proses (1) kerjasama [cooperation] (2) akomodasi [accomodation], (3) asimilasi (assimilation). Kedua, proses yang bersifat disosiatif (oppositional processes) yang mencakup proses-proses (1) persaingan [competition], (2) kontravensi [contravention], (3) pertentangan atau pertikaian [conflict].

Proses kerjasama (cooperation) mencakup paling tidak lima bentuk: (1) kerukunan seperti gotong-royong, (2) bargaining, pelaksanaan perjanjian pertukaran barang-barang, (3) kooptasi [cooptation], yaitu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menjaga stabilitas organisasi tersebut, (4) koalisi [coalition], yaitu penggabungan dua organisasi atau lebih untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama, (5) join venture, kerjasama usaha untuk proyek-proyek tertentu.

Proses akomodasi (accomodation) adalah usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan dan mencapai kestabilan. Akomodasi bisa juga menunjuk pada suatu keadaan di mana terjadi keseimbangan dan kestabilan. Akomodasi mencakup tindakan-tindakan seperti (1) coercion, stabilitas yang diadakan dengan pemaksaan-pemaksaan tertentu, misalnya penekanan yang dilakukan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, (2) comprimise, akomodasi dengan cara fihak-fihak bertikai saling mengurangi tuntutan  sehingga tercapai kerharmonisan hubungan, (3) arbitration, penyelesaian pertentangan dibantu oleh pihak ketiga yang lebih tinggi dari kedua belah pihak yang bertikai, misalnya dalam perselisihan perburuhan, (4) mediation, mirip dengan arbitration, pihak ketiga bersifat netral yang bertugas mendamaikan, (5) conciliation, usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan bersama, (6) toleration atau tolerant-participation, usaha menghindarkan diri dari perselisihan dengan menghargai dan mengakomodir perbedaan, (7) stelemate, proses di mana pihak-pihak yang bertentangan mempunyai kekuatan seimbang sehingga berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangan itu, (8) adjudication. Penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.

Asimilasi adalah proseds akomodasi tahap lanjut di mana kemudian terjadi kesatuan baru. Menurut antropolog Koentjaraningkat, asimilasi terjadi bila: (1) ada kelompok-kelompok manusia yang berbeda-beda kebudayaannya, (2) yang saling bergaul dalam waktu yang lama, (3) sehingga masing-masing kebudayaan itu berubah dan saling menyesuaikan diri (Koentjaraningrat, 1955, hal 146).

Persaingan  (competition) biasanya terjadi karena individu-individu atau kelompok-kelompok dalam masyarakat berebut keuntungan. Persaingan masih sehat bila tidak menggunakan unsur-unsur ancaman dan kekerasan. Contohnya adalah persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan dan peranan, dan persaingan ras. Fungsi persaingan adalah (1) menyalurkan keinginan-keinginan yang bersifat kompetitif, (2) menyalurkan kepentingan dan nilai-nilai, (3) menjadi alat seleksi sosial, (4) menjadi alat penyaring untuk menghasilkan sistem pembagian kerja yang efektif (Soerjono Soekanto, 1990, hal 101).

Kontravensi (contravention) adalah persaingan (competition) yang sudah cenderung menuju ke pertentangan/pertikaian (conflict). Ciri-cirinya adalah adanya (1) sikap-sikap penolakan dan perlawanan, (2) penyangkalan, fitnah, cercaan, (3) hasutan, (4) pengkhianatan, (5) tindakan mengejutkan lawan (Soerjono Soekanto, 1990, hal 104). Contohnya adalah antahgonisme keagamaan, kontravensi parlementer yang berkaitan dengan golongan mayoritas dan minoritas, kontravensi intelektual, dan sikap oposisi moral.

Pertentangan/pertikaian (conflict) terjadi jika perbedaan-perbedaan sangat tajam dan saling berbenturan. Bentuk konflik yang parah adalah peperangan. Akibat konflik (1) tambahnya solidaritas masing-masing kelompok, (2) kesatuan masyarakat retak, (3) perubahan kepribadian para individu, (4) kerugian harta benda dan korban jiwa, (5) terjadi akomodasi dominasi dan takluknya salah satu pihak (Soerjono Soekanto, 1990, hal 112-113).

(3) PERUBAHAN SOSIAL & BUDAYA DAN KOMUNIKASI ANTAR BANGSA

Sumber: Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali Press, 1990)

Perubahan Sosial

Perubahan sosial merupakan masalah yang rumit. Berikut adalah beberapa pandangan para ahli yang didaftarkan Soerjono Soekanto tentang konsep tersebut.

  • Menurut Mac Iver, perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada hubungan-hubungan sosial (social relationship) yang merubah keseimbangan (equilibrium) masyarakat.
  • Menurut Samuel Koenig, perubahan sosial adalah adalah perubahan-perubahan pada pola-pola kehidupan manusia.
  • Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan-perubahan pada ”lembaga kemasyarakatan” (social institution, pranata sosial)  yang mempengaruhi sistem sosial secara keseluruhan.
  • Menurut Kingsley Davis, perubahan sosial adalah bagian dari perubahan kebudayaan karena sistem sosial adalah salah satu unsur dari kebudayaan.

Menurut Soerjono Soekanto, perubahan sosial mempunyai beberapa bentuk yaitu (1) perubahan lambat [evolusi] dan perubahan cepat [revolusi], (2) perubahan kecil dan perubahan besar, dan (3) perubahan yang dikehendaki [intended-change] atau yang direncanakan [planned change] dan perubahan yang tidak dikehendaki [unintended change] atau tidak direncanakan [unplanned change].

Mengenai evolusi ada beberapa teori: (1) unilinear theories of evolution, mengatakan bahwa manusia dan masyarakat berkembang melalui tahapan-tahapan tertentu, (2) universal theory of evolution, mengatakan bahwa perkembangan manusia dan masyarakat tidak perlu melalui tahapan-tahapan tertentu, (3) multilined theories of evolution, mengatakan bahwa perkembangan tiap masyarakat itu unik. Sedangkan revolusi merupakan perubahan cepat yang biasa didahului dengan pemberontakan (revolt, rebbelion). Revolusi adalah perubahan radikal meskipun waktunya tidak selalu cepat, misalnya ”revolusi industri”.

Mengenai perubahan yang dikehendaki (intended-change) atau yang direncanakan (planned change) terdapat beberapa istilah terkait

  • Agent of change, yaitu pihak yang menghendaki dan melancarkan perubahan
  • Social enginering atau social planning adalah cara-cara mempengaruhi masyarakat supaya berubah, disebut juga ”rekayasa sosial”.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan sosial adalah (1) bertambah atau berkurangnya penduduk, (2) penemuan-penemuan baru yaitu discovery [penemuan unsur kebudayaan baru] dan invention [proses dimana masyarakat menerima dan mengakui penemuan baru itu], (3) pertentangan [conflict], termasuk perang (4) pemberontakan atau revolusi, (5) perubahan lingkungan alam dan fisik, termasuk karena adanya bencana alam, (6) peperangan dengan masyarakat/bangsa lain, (7) adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Mengenai pengaruh kebudayaan masyarakat lain terdapat beberapa konsep terkait sebagai berikut:

  • Difusi (diffusion) yaitu proses penyebaran kebudayaan dari inividu ke individu atau masyarakat ke masyarakat yang meliputi difusi intra masyarakat (intra society diffusion) dan difusi antar masyarakat (inter-society diffusion).
  • Akulturasi, proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing
  • Demonstration effect, hasil pengaruh masyarakat yang diterima tanpa paksaan.
  • Cultural animosity, pertemuan dua kebudayaan yang seimbang dan saling menolak.
  • Symbiotic, hubungan antar individu di mana bentuk masing-masing kebudayaan hampir-hampir tidak berubah.

Mengenai prorses-proses perubahan sosial terdapat beberapa konsep terkait sebagai berikut

  • Social equilibrium, keserasian atau harmoni masyarakat.
  • Social adjustment, penyesuaian terhadap adanya unsur-unsur baru yang membawa perubahan
  • Social maladjustment, ketidakpenyesuaian sosial terhadap adanya unsur-unsur baru yang membawa perubahan.
  • Channel of change atau avenue of change, saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan misalnya pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, rekreasi, dst.
  • Disorganisasi sosial (disintegrasi sosial), keadaan berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat karena adanya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan (social institution).
  • Reorganisasi sosial (reintegrasi sosial), proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami perubahan/pembaruan. Reorganisasi terjadi jika norma-norma dan nilai-nilai baru itu melembaga (institutionalized) dalam diri warga masyarakat.

Pembangunan merupakan salah satu bentuk perubahan sosial yang direncanakan. Sebagai perencanaan, pembangunan didisain dengan matang supaya berubah sesuai dengan tahap-tahap tertentu seperti dicontohkan dalah teori pertumbuhan Rostow. Tahap awal adalah tahap masyarakat tradisional (the traditional society) yang direncanakan berkembang menjadi tahap peralihan (the precondition for take off) sampai akhirnya menjadi negara industri yang maju secara ekonomi (take off society). Modernisasi juga merupakan perubahan sosial. Menurut J.W. Schoorl, modernisasi adalah penerapan pengetahuan ilmiah yang ada kepada semua aktivitas, semua bidang kehidupan atau kepada semua aspek-aspek masyarakat.

(4) NILAI SOSIAL BUDAYA, POLITIK, DAN IMPLIKASI PRIVASI DAN KERAHARIAAN

Masyarakat dan Kebudayaan

Sosiolog Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mendefinisikan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa, dan cipta manusia. Karya menunjuk pada teknologi dan budaya materi yang dibuat dan dikembangkan manusia. Rasa menunjuk pada jiwa manusia yang menghasilkan nilai-nilai, agama, ideologi, seni. Cipta menunjuk pada ilmu pengetahuan ilmiah yang dikembangkan manusia yang rasional.

Untuk kepentingan analisis sosial, Soerjono Soekanto membedakan konsep-konsep kebudayaan (culture) sebagai berikut:

  • Civilization adalah bagian kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang tinggi.
  • Super culture adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat.
  • Cultures adalah penjabaran dari super culture yang dikaitkan dengan kekhususan daerah, golongan, etnik, profesi, dst.
  • Sub-culture adalah  kebudayaan-kebudayaan khusus yang tidak bertentangan dengan kebudayaan induknya.
  • Counter-culture adalah  kebudayaan-kebudayaan khusus yang bertentangan dengan kebudayaan induknya. Ini tidak selalu negatif, terkadang justru mengindikasikan adanya inovasi.

Dari kajian Antropologi berkembang konsep tentang unsur-unsur kebudayaan. Ada unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya universal (cultural universals) yang menurut C. Kluckhon terdiri dari: (1) sistem peralatan, (2) sistem mata pencaharian, (3) sistem kemasyarakatan seperti sistem kekerabatan, politik, hukum, dan perkawinan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem pengetahuan, (7) sistem kepercayaan. Menurut Ralph Linton dalam Soerjono Soekanto, cultural universal dapat dibagi ke dalam cultural activity yang dapat dibagi lagi dalam trait-complex, kemudian traits, dan terkecil items. Contohnya adalah sistem mata pencaharian (cultural universal) yaitu ”pertanian” (cultural activity) yang mencakup salah satunya ”mengolah tanah” (trait complex) yang mencakup salah satunya ”alat pembajak sawah” (traits) yang terdiri dari unsur-unsur terkecil yang salah satunya adalah ”mata bajak” (items).

Kebudayaan berfungsi untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Karena itu kebudayaan merupakan pola-pola perilaku manusia (the pattern of behavior). Menurut Ralph Linton, kebudayaan merupakan petunjuk kehidupan (design for living) karena merupakan garis-garis pokok tentang perilaku (blueprint for behavior). Dalam hal ini kebudayaan bersifat normatif karena mempunyai unsur yang bersifat memberikan penilaian-penilaian (valuational element), menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan (prescriptive element), dan kepercayaan-kepercayaan tentang kebenaran atau kebaikan (cognitive element).

Kekuasaan dan Wewenang

Sosiolog Soerjono Soekanto membedakan antara kekuasaan dan wewenang. Kekuasaan adalah setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain. Wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang yang mendapat pengakuan dari masyarakat luas.

Kekuasaan terkait dengan bentuk hubungan yang bersifat asimetris di mana ada pihak yang berkuasa dan ada pihak yang dikuasai. Sedangkan dalam hubungan sosial yang simetris, posisi hubungannya sama dan setara. Kekuasaan adalah hubungan sosial yang mengandung unsur-unsur (1) rasa takut, (2) rasa cinta, (3) kepercayaan, (4) pemujaan, yang bisa dikembangkan melalui berbagai saluran seperti: saluran militer, ekonomi, politik, tradisi, ideologi, dan lain-lain.

Kekuasaan dapat dilakukan dengan atau tanpa kekerasan. Ada kekuasaan sah dengan kekerasan dan ada yang tanpa kekerasan. Ada juga kekuasan yang tidak sah dengan kekerasan atau tanpa kekerasan.

Sistem kekuasaan membentuk sistem stratifikasi sosial tertentu. Secara umum itu kelas karena ada kelas penguasa dan kelas yang dikuasai. Sosiolog Soerjono Soekanto mengklasifikasi sistem stratifikasi kekuasaan itu sebagai berikut (1) tipe kasta, yaitu sistem pelapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku, (2) tipe oligarkis, meski masih ada garis pemisah yang tegas, dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat terutama pada kesempatan yang diberikan kepada warga untuk memperoleh kekuasaan, (3) tipe demokratis, di mana garis pemisah antara lapisan bersifat mobil sekali.

Mengenai wewenang, Soerjono Soekanto membedakan sebagai berikut (1) wewenang karismatis, didasarkan pada karisma yang dipercayai secara supranatural oleh anggapan masyarakat, (2) wewenang tradisional, dimiliki berdasar adat-istiadat, (3) wewenang rasional atau legal, berdasar pada sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat, (4) wewenang resmi, sifatnya sistematis dan diperhitungkan secara rasional, (5) wewenang tidak resmi sifatnya spontan, situasional dan berdasar saling mengenal, (6) wewenang pribadi, tergantung pada solidaritas antar anggota-anggota kelompok, (7) wewenang teritorial, berdasar pada kewilayahan.

(5) NILAI KEILMUAN YANG TERKAIT KESEHATAN & KEPERAWATAN

Kegunaan atau Manfaat Sosiologi

Sosiologi memberikan manfaat secara praktis melalui penelitian ilmiah (kegiayan ilmiah yang didasarkan pada proses analisis dan konstruksi) (Soerjono Soekanto, 1990, hal 457). Tujuan penelitian adalah mengungkapkan kebenaran dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, misalnya, kita bisa mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial atau penyimpangan sosial. Selanjutnya informasi itu menjadi masukan untuk mengambil keputusan atau kebijakan untuk pembangunan masyarakat.

Manfaat penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, penelitian murni bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara teoritis. Kedua, penelitian yang berpusat pada masalah bermanfaat untuk memecahkan masalah yang timbul dalam perkembangan teori. Ketiga, penelitian terapan bermanfaat untuk memecahkan masalah yang dihadapi (oleh masyarakat atau pemerintah).

Melalui penelitian sosiologis kita dapat memahami kebenaran masalah-masalah sosial seperti masalah-masalah proses sosial, kelompok sosial, stratifikasi sosial, lembaga kemasyarakatan, kekuasan dan wewenang, dan perubahan sosial. Hasil-hasil penelitian sosiologis dapat dimanfatkan oleh ilmu-ilmu sosial lainnya. Hal ini disebabkan karena penelitian sosiologis memusatkan perhatiannya pada masyarakat, yang merupakan wadah kehidupan bersama yang mencakup aspek-aspek: (1) fisik, (2) biologis, (3) politis, (4) ekonomis, (5) sosial, (6) budaya, (7) kesehatan, (8) pertahanan-keamanan, (9) hukum.

Sebagai contoh adalah manfaat penelitian sosiologis dalam proses pembangunan. Dalam merencanakan pembangunan, selalu dibutuhkan data-data akurat tentang perkembangan masyarakat, misalnya mengenai perkembangan proses sosial, kelompok-kelompok sosial, kebudayaam, lembaga-lembaga kemasyarakatan, dan lain-lain. Melalui penelitian sosiologis, data-data itu diperoleh dan menjadi masukan-masukan yang penting.

Waspadai Penyakit Akibat Pembangunan!

(Menggunakan Analisa Ilmu Sosial-Budaya untuk Pembangunan Kesehatan)

Oleh : Haryadi Baskoro

MASALAH kesehatan nasional berkaitan erat dengan pembangunan. Tentu saja, sebagai sebuah perubahan yang direncanakan (planned change), pembangunan didisain sebagai sebuah upaya sistematis untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih baik. Namun, kesalahan atau ketidakcermatan dalam perencanaan, justru menjadikan pembangunan sebagai biang berbagai masalah. Pembangunan bisa menyebabkan Indonesia semakin sehat atau justru sebaliknya. Lebih baik kita bersikap introspektif.

Pembangunan, khususnya pengembangan infrastruktur, merupakan tuntutan tak terelakkan. Jembatan, jalan, bendungan, waduk, kanal, pelabuhan, dan berbagai bangunan lainnya merupakan sarana penunjuang pertumbuhan ekonomi. Pembangunan infrastruktur di perkotaan, walau acak-acakan, melaju tanpa bisa dikendalikan. Meski tertatih-tatih dan masih jauh dari merata, pembangunan di Indonesia tetap jalan terus.

Keseimbangan Ekologis

Sejak proses industrialisasi bergulir, pembangunan infrastruktur modern sering berdampak negatif karena merusak keseimbangan alam. DuBos, sebagaimana dikutip oleh George M Foster (2005), mengatakan bahwa semua inovasi teknologi yang berhubungan dengan pengembangan industri, pertanian, kedokteran, akan mengganggu keseimbangan alam. Usaha manusia untuk menguasai alam akan mengganggu keteraturan alam sehingga alam menjadi tidak bersahabat dengannya.

Pembangunan infrastruktur, betapa pun itu menguntungkan bagi manusia, bisa merubah alam menjadi ganas. Penyakit-penyakit baru muncul sebagai reaksi pemberontakan alam terhadap pemerkosaan yang dilakukan manusia atas dirinya. Pembuatan terusan Panama yang menghubungkan samudera Pasifik dan Atlantik merupakan saksi bisu munculnya penyakit akibat pembangunan. Insinyur Perancis DeLessup terpaksa menghentikan pembangunan itu karena terkena penyakit demam kuning. Baru setelah dokter-dokter Amerika menemukan penyebabnya dan setelah vektor-vektor nyamuk dibasmi, pembangunan terusan itu bisa dilanjutkan lagi.

Menurut catatan Thayer Scudder (1973), pembangunan bendungan Volta di Ghana telah mengacaukan keseimbangan ekologis sehingga membiakkan siput-siput yang ternyata menjadi perantara bagi cacing pita dari genus schitosoma yang menjadi penyebab penyakit bilharziasis pada manusia. Pada tahun 1972, dua belas tahun sejak parasit itu ditemukan untuk pertama kalinya, lebih dari 70 persen dari 1.000 anak-anak yang tinggal di sekitar bendungan itu terkena infeksi.

Hughes dan Hunter (1970) menemukan hubungan antara pembangunan jalan raya dengan perkembangan penyakit tidur (trypanosomiasis) yang disebabkan oleh gigitan lalat tsetse di Ghana. Khususnya di daerah Ashanti, lalat-lalat itu berkembang-biak di saluran-saluran air dan semak-semak yang ada di kanan-kiri jalan raya. Para pekerja migran yang senantiasa melewati jalan raya cepat terjangkit penyakit tersebut.

Pembangunan industri tak jarang merusak lingkungan alam yang pada gilirannya menyebabkan penyebaran penyakit-penyakit. Air yang dulu tersedia tanpa batas (boundless supply), kini tercemar. Air mengalami mengalami perubahan konsentrasi ion hidrogen dan tercemar berbagai endapan, koloidal, bahan pelarut, dan berbagai mikro-organisme sehingga mendatangkan penyakit jika dikonsumsi.

Pertumbuhan kawasan kumuh (slum area) di perkotaan menjadi sumber sakit-penyakit. Arus urbanisasi sebagai dampak pembangunan perkotaan menyebabkan padatnya penduduk sehingga berkembanglah tempat-tempat pemukiman yang buruk, kotor, dan sama sekali tidak sehat. Belum lagi perilaku buruk mereka seperti membuang sampah sembarangan di sungai, menciptakan sumber-sumber penyakit baru.

Pembangunan juga memicu tumbuhnya gaya hidup modern yang tidak sehat, misalnya dalam hal mengkonsumsi makanan. Inilah gaya makan orang Amerika (dan orang Indonesia yang keAmerika-amerikaan): banyak mengkonsumsi minuman ringan (soft drink), daging, zat pati, garam, dan gula, kopi, teh, dan sedikit makan buah dan sayuran. Konsumsi tinggi protein dan makanan asin menguras kalsium dari tulang. Menurut Don Colbert MD, diet tinggi gula yang disertai konsumsi kafein, kopi, teh, dan minuman ringan akan menciptakan atmosfer asam dalam tubuh manusia yang menyebabkan osteoporosis. Tak kurang dari 20 juta orang di sana menderita osteoporosis.

Kontrak Ekologi

Pembangunan di Indonesia seringkali tidak berwawasan ekologi sehingga mengancam kesehatan masyarakat. Banjir rutin di Jakarta yang menimbulkan berbagai penyakit disebabkan oleh dua hal. Pertama, faktor alam. Seluas 40 persen wilayah ini berada di bawah atau sama dengan permukaan laut, sedangkan air laut sering pasang. Kecuali itu, curah hujan per tahun memang cukup tinggi (1.750-2.500 mm). Kedua, faktor pembangunan yang tidak terencana dengan baik. Bangunan-bangunan yang didirikan tidak tembus air, sehingga tanah kurang berfungsi sebagai resapan air (recharge area). Pembangunan kawasan perkantoran dan pemukiman tidak mengelompok dalam satu sistem drainase atau daerah aliran sungai (DAS) tertentu. Kecuali itu, daerah rawa-rawa habis karena dipakai untuk pembangunan real estate. Padahal, rawa-rawa berfungsi sebagai “daerah parkir air”.

Kegagalan kota Jakarta dalam membangun sistem transportasi untuk mengatasi kemacetan ditambah pertambahan kendaraan bermotor yang sangat pesat pasti memperburuk kualitas udara. Jumlah mobil pribadi bertambah terus, dari 1.196.060 unit pada tahun 2002 menjadi 1.499.610 pada tahun 2006. Sampai Maret 2007, apabila ditambah dengan mobil barang dan bus, totalnya mencapai 2.677.303 unit. Setiap hari, bertambah 269 unit mobil pribadi. Ancaman penyakit akibat polusi udara semakin tinggi.

Yogyakarta yang “berhati nyaman” pun kini tidak bisa lagi memberi kenyamanan dalam bernafas. Hasil pemantauan Kantor Penanggulangan Dampak Lingkungan (April 2006) menunjukkan bahwa udara di 10 lokasi di kota Yogyakarta telah tercemar hingga mencapai 1.053 mikrogram per meter kubik. Pembangunan perlu dirancang ulang sehingga lebih berwawasan lingkungan.

Menurut Hughes dan Hunter, sebagaimana dikutip Foster dan Anderson (2005), pembangunan yang merupakan program yang merubah hubungan antara manusia dan alam harus dilihat dalam kerangka ekologi. Manusia dan alam harus senantiasa membarui “kontrak ekologi” yang di dalamnya diperhitungkan soal “biaya-biaya tersebunyi”. Dalam menjalankan pembangunan, jangan hanya memikirkan keuntungan-keuntungan, namun juga mempertimbangkan dampak-dampak kesehatan (timbulnya sakit-penyakit) yang akan menyebabkan kerugian-kerugian fisik dan finansial.

Pembangunan yang dijalankan tanpa menghargai alam akan menuai berbagai-bagai penyakit sebagai akibat rusaknya ekologi. Pada akhirnya, biaya yang harus ditanggung sangatlah besar. Alam, lapisan ozon misalnya, tak bisa dibeli dengan harga selangit sekalipun. Kita perlu merancang ulang pembangunan dengan lebih mempertimbangkan aspek-aspek ekologis, atau masyarakat dan anak cucu kita menjadi sakit lalu terjerat dalam penderitaan berkepanjangan.

(6) KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA

Masalah Keperawatan Lintas Budaya

Untuk memahami masalah keperawatan lintas, budaya, harus dipahami lebih dulu pengertian tentang

  • KELOMPOK SOSIAL. Masyarakat yang merupakan kelompok ssosial, dan terdiri dari kelompok-kelompok sosial, masing-masing memiliki ciri sendiri-sendiri. Demikian juga sistrem keperawatannya, setiap mereka memiliki kekhasan sendiri-sendiri.
  • KEBUDAYAAN. Keperawatan merupaan sistem kebudayaan yang unik. Dengan demikian, karena ada banyak sistem kebudayaan maka ada banyak sistem keperawatan. Adapun dunia modern mencoba menseragamkan atau menstandarisasi sistem keperawatan itu, menjadi sebuah standar kebudayaan global.

Kelompok-kelompok Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, kelompok sosial (social group) adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama dan terdapat hubungan-hubungan di dalamnya. Syarat terjadinya kelompok sosial adalah adanya, (1) kesadaran para anggota bahwa mereka adalah bagian dari kelompok itu, (2) ada hubungan timbal balik antar anggota-anggotanya, (3) ada faktor pemersatu, misalnya tujuan yang sama, kepentingan yang sama, ideologi yang sama, dll, (4) memiliki struktur tertentu. Kelompok-kelompok sosial dapat diklasifikasikan berdasar kriteria-kriteria: (1) besar kecilnya jumlah anggota, (2) derajat interaksi sosial, (3) kepentingan dan wilayah, (4) berlangsungnya suatu kepentingan, (5) derajat organisasi, (6) kesadaran akan kesamaan, misalnya sama dalam tujuan.

Dalam menganalisis masalah kelompok sosial, Soerjono Soekanto menyodorkan beberapa konsep terkait sebagai berikut.

  • In-group, yaitu kelompok sosial dengan mana individu mengidentifikasi dirinya.
  • Out-group, kelompok sosial yang oleh individu diartikan sebagai lawan dari in-group-nya.
  • Kelompok primer (primary group) atau face to face group, adalah pandangan CH Coley tentang kelompok paling sederhana di mana para anggotanya saling kenal dan berhubungan erat.
  • Kelompok sekunder (secondary group), adalah pandangan CH Coley tentang kelompok besar terdiri dari banyak orang, antar anggota tidak begitu saling kenal dan tidak ada hubungan-hubungan yang bersifat pribadi
  • Paguyuban (gemeinchaft) adalah pandangan Ferdinand Tonies tentang suatu kehidupan bersama yang para anggotanya mempunyai hubungan batin erat dan penuh rasa cinta kasih.
  • Patembayan (gesselschaft) adalah pandangan Ferdinand Tonies tentang ikatan kebersamaan yang berdasar pikiran dan jangka pendek saja.
  • Formal group, kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggota untuk mengatur hubungan internal mereka.
  • Informal group, kelompok yang tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu, sifatnya tidak resmi.
  • Membership group, adalah kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggotanya.
  • Reference group, adalah kelompok-kelompok yang menjadi acuan bagi seseorang untuk membentuk kepribadian dan perilakunya.
  • Komunitas (community) adalah kelompok sosial atau masyarakat yang berdomisi di wilayah tertentu secara geografis dengan batas-batas wilayah tertentu. Contohnya adalah masyarakat desa (rural community) dan masyarakat kota (urban community).
  • Small group, kelompok kecil yang paling sedikit terdiri dari 2 orang.
  • Kerumunan (crowd) adalah kelompok sosial yang tidak teratur yang sekedar meripakan individu-individu yang berkumpul sementara secara kebetulan pada waktu dan tempat yang sama. Macamnya adalah (1) kerumunan yang berartikulasi dengan stuktur sosial seperti penonton resmi [formal audience] dan kelompok ekspresif yang direncanakan [planned expressive group], (2) kerumunan sementara [casual crowds] seperti kerumunan yang tidak menyenangkan [inconvenient aggregations] dan kerumunan panik [panic crowd], serta kerumunan penonton [spectator crowd], (3) kerumulan yang melawan norma [lawless crowds] seperti kerumunan emosional [acting mobs] dan kerumunan imoral [immoral crowd].

Masyarakat dan Kebudayaan

Sosiolog Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mendefinisikan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa, dan cipta manusia. Karya menunjuk pada teknologi dan budaya materi yang dibuat dan dikembangkan manusia. Rasa menunjuk pada jiwa manusia yang menghasilkan nilai-nilai, agama, ideologi, seni. Cipta menunjuk pada ilmu pengetahuan ilmiah yang dikembangkan manusia yang rasional.

Untuk kepentingan analisis sosial, Soerjono Soekanto membedakan konsep-konsep kebudayaan (culture) sebagai berikut:

  • Civilization adalah bagian kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang tinggi.
  • Super culture adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat.
  • Cultures adalah penjabaran dari super culture yang dikaitkan dengan kekhususan daerah, golongan, etnik, profesi, dst.
  • Sub-culture adalah  kebudayaan-kebudayaan khusus yang tidak bertentangan dengan kebudayaan induknya.
  • Counter-culture adalah  kebudayaan-kebudayaan khusus yang bertentangan dengan kebudayaan induknya. Ini tidak selalu negatif, terkadang justru mengindikasikan adanya inovasi.

Dari kajian Antropologi berkembang konsep tentang unsur-unsur kebudayaan. Ada unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya universal (cultural universals) yang menurut C. Kluckhon terdiri dari: (1) sistem peralatan, (2) sistem mata pencaharian, (3) sistem kemasyarakatan seperti sistem kekerabatan, politik, hukum, dan perkawinan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem pengetahuan, (7) sistem kepercayaan. Menurut Ralph Linton dalam Soerjono Soekanto, cultural universal dapat dibagi ke dalam cultural activity yang dapat dibagi lagi dalam trait-complex, kemudian traits, dan terkecil items. Contohnya adalah sistem mata pencaharian (cultural universal) yaitu ”pertanian” (cultural activity) yang mencakup salah satunya ”mengolah tanah” (trait complex) yang mencakup salah satunya ”alat pembajak sawah” (traits) yang terdiri dari unsur-unsur terkecil yang salah satunya adalah ”mata bajak” (items).

Kebudayaan berfungsi untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Karena itu kebudayaan merupakan pola-pola perilaku manusia (the pattern of behavior). Menurut Ralph Linton, kebudayaan merupakan petunjuk kehidupan (design for living) karena merupakan garis-garis pokok tentang perilaku (blueprint for behavior). Dalam hal ini kebudayaan bersifat normatif karena mempunyai unsur yang bersifat memberikan penilaian-penilaian (valuational element), menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan (prescriptive element), dan kepercayaan-kepercayaan tentang kebenaran atau kebaikan (cognitive element).

(7) PRAKTIK BUDAYA DAN BAHASA

Bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan

Dari kajian Antropologi berkembang konsep tentang unsur-unsur kebudayaan. Ada unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya universal (cultural universals) yang menurut C. Kluckhon terdiri dari: (1) sistem peralatan, (2) sistem mata pencaharian, (3) sistem kemasyarakatan seperti sistem kekerabatan, politik, hukum, dan perkawinan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem pengetahuan, (7) sistem kepercayaan.

Bahasa (sumber www.wikipedia.com)

Bahasa bisa mengacu kepada kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, atau kepada sebuah instansi spesifik dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks. Kajian ilmiah terhadap bahasa dalam semua indra disebut dengan linguistik.

Sekitar 3000-6000 bahasa yang digunakan oleh manusia sekarang adalah suatu contoh yang menonjol, tapi bahasa alami dapat juga berdasarkan visual daripada rangsangan pendengaran, sebagai contoh pada bahasa isyarat dan bahasa tulis. Kode dan bentuk lain dari sistem komunikasi artifisial seperti yang digunakan untuk pemrograman komputer juga dapat disebut bahasa. Bahasa dalam konteks ini adalah sebuah sistem isyarat untuk enkoding dan dekoding informasi. Kata bahasa Inggris “language” yang diturunkan secara langsung dari Latin lingua, “language, tongue”, lewat Prancis Tua. Hubungan metaforis antara bahasa dan lidah ada dalam banyak bahasa dan menjadi saksi dalam sejarah munculnya bahasa lisan. [1] Bila digunakan sebagai konsep umum, “bahasa” mengacu pada kemampuan kognitif yang membuat manusia dapat belajar dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks.

Kemampuan bahasa manusia dikatakan pada dasarnya berbeda dari dan lebih tinggi tingkat kerumitannya daripada spesies lain. Bahasa manusia sangat rumit dimana ia berdasarkan sekumpulan aturan berkaitan dengan simbol dan makna, sehingga membentuk sejumlah kemungkinan penyebutan yang tak terbatas dari sejumlah elemen yang terbatas. Bahasa dikatakan berasal sejak hominid pertama kali mulai bekerja sama, mengadopsi sistem komunikasi awal yang berdasarkan pada isyarat ekspresif yang mengikutkan teori dari pikiran dan dibagi secara sengaja. Perkembangan tersebut dikatakan bertepatan dengan meningkatnya volume pada otak. Bahasa diproses pada otak manusia dalam lokasi yang berbeda, tetapi secara khusus berada di area Broca dan area Wernicke. Manusia mengakuisisi bahasa lewat interaksi sosial di masa balita, dan anak-anak sudah dapat berbicara secara fasih sekitar umur tiga tahun. Penggunaan bahasa telah bercokol dalam kultur manusia dan, selain digunakan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi, ia juga memiliki fungsi sosial dan kultural, seperti untuk menandakan identitas suatu kelompok, stratifikasi sosial dan untuk dandanan sosial dan hiburan. Kata “bahasa” juga dapat digunakan untuk menjelaskan sekumpulan aturan yang membuat ia bisa ada, atau sekumpulan penyebutan yang dapat dihasilkan dari aturan tersebut.

Semua bahasa bergantung pada proses semiosis untuk menghubungkan sebuah isyarat dengan sebuah makna tertentu. Bahasa lisan dan isyarat memiliki sebuah sistem fonologikal yang mengatur bagaimana suara atau simbol visual digunakan untuk membentuk urutan yang dikenal sebagai kata atau morfem, dan sebuah sistem sintaks yang mengatur bagaimana kata-kata dan morfem digunakan membentuk frasa dan penyebutan. Bahasa tulis menggunakan simbol visual untuk menandakan suara dari bahasa lisan, tetapi ia masih membutuhkan aturan sintaks yang memproduksi makna dari urutan kata-kata. Bahasa-bahasa berubah dan bervariasi setiap waktu, dan sejarah evolusinya dapat direkonstruksi ulang dengan membandingkan bahasa moderen untuk menentukan ciri-ciri mana yang harus dimiliki oleh bahasa pendahulunya untuk perubahan nantinya dapat terjadi. Sekelompok bahasa yang diturunkan dari leluhur yang sama dikenal sebagai keluarga bahasa. Bahasa yang digunakan dunia sekarang tergolong pada keluarga Indo-Eropa, yang mengikutkan bahasa seperti Inggris, Spanyol, Rusia dan Hindu; Bahasa Sino-Tibet, yang melingkupi Mandarin Chinese, Cantonese dan lainnya; bahasa Semitik, yang melingkupi Arab, Amharic dan Hebrew; dan bahasa Bantu, yang melingkupi Swahili, Zulu, Shona dan ratusan bahasa lain yang digunakan di Afrika.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: